Diberdayakan oleh Blogger.

Ramadhan Telah Pergi

Jumat, 16 September 2011

Selalu begitu. Sesuatu akan terasa berharga setelah merasa kehilangan. Dan saya juga. Setiap kali bulan puasa berlalu, seperti ada suatu kerinduan dan mungkin penyesalan.

Kerinduan tentang masa-masa menanggung lapar dan dahaga. Tentang saat suasana sahur dengan keluarga, meski tentu saja tidak begitu nikmat, karena mata masih setengah terpejam. Atau saat menunggu suara adzan dari surau sebelah, yang selalu terlambat, karena si tukang adzan masih harus minum segelas kolak sebelum mulai mendendangkan tanda buka puasa. Walau ada radio dan televisi tapi ibu saya selalu mengajak berbuka puasa karena seruan dari masjid.

Dan pada waktu itu detik-detik pun terasa lama. Saya tidak pernah menyadarinya apakah di hari biasa juga selama itu. Juga, rindu suasana Ramadhan di televisi, meski harus diakui semua sangat dipaksakan. Acara banyolan di televisi, di mana-mana, mungkin porsi dakwahnya hanya seperempatnya atau kurang. Juga artis-artis yang mendadak muncul berkerudung, meski biasanya dia selalu tampil bohay. Atau si itu yang rajin mengenakan kaftan, maaf, saya tidak ingin bergosip.

Tapi ibu saya sudah empat tahun ini selalu menikmati tontonan rutin di bulan Ramadhan. Sinetron Para Pencari Tuhan di SCTV. Meski tetap saja harus diakui bahwa tetap saja tidak ada yang istimewa, karena ceritanya masih seperti yang lainnya: tidak masuk akal dan mengada-ada, tapi saya jadi ikut menonton sinetron itu juga, sambil membanding-bandingkan siapa yang lebih cantik antara Aya (Saskia A. Mecca) dan Kalila (saya lupa siapa pemerannya).

Juga, mungkin kerinduan akan ini. Walau memang (seharusnya) puasa memang untuk mengurangi segala kemewahan dunia, termasuk di meja makan. Tapi tetap saja, selama bulan puasa malahan pengeluaran jadi tidak terkendali, menu makan jadi lebih lezat dari sedia kala.

Dan saja jadi ingat kutipan Goenawan Mohammad begini: “Ramadan telah jadi sebuah paradoks: ketika orang diharuskan menahan nafsu, kreativitas menyiapkan hidangan justru meningkat; omzet perdagangan makanan naik sampai 60 persen. Orang ramai berbelanja untuk membuat meriah meja berbuka puasa dan sahur mereka.” Tapi mungkin saya tidak sendiri, karena rupanya yang lainnya juga begitu.

Lalu saya menyesal tentang ini: setiap kali bulan Ramadhan berlalu saya selalu menyesal sebab kemarin ibadah saya masih kurang, mengaji kurang, tarawih tidak penuh, puasa saya kurang khusuk sepertinya, masih sering menggerutu tentang ini itu.

Tapi Ramadhan telah pergi. Dan pesta pun usai, yang tertinggal adalah sepi. Saya menuang segelas sirop sisa-sisa kemeriahan di minggu lalu. Mudik pun tlah usai, saat kembali ke rutinitas dan kepenatan kerja yang tlah menunggu.

Saya bukan orang alim memang, tapi sepertinya masih tetap saja berharap: semoga Allah masih mempertemukan saya dengan Ramadhan di tahun depan.

0 komentar:

Poskan Komentar

About This Blog

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP